Sekitar pukul 8.00 pagi, selain Debu yang sedang melakukan sound check, di sisi lain Surau Baitul Amin Sawangan berlangsung acara khitanan massal bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Surau Baitul Amin. Target peserta dari acara khitanan massal ini adalah anak-anak yatim piatu atau anak-anak dari keluarga yang kurang mampu, oleh sebab itu tidak dipungut biaya sama sekali. Acara ini dikelola oleh Baitul Amin Medical Center, atau BAMC, sebuah unit medis yang bernaung dibawah Surau Baitul Amin. Tim dokter beranggotakan 16 orang, dibantu juga oleh para perawat, mulai mengkhitan peserta yang mulai berdatangan sejak pukul 7.30 pagi. Sesuai tujuan dari Festival Baitul Amin, yaitu saling bersilaturahhim dengan sesama, tim dokter lulusan Universitas Islam Sultan Agung yang sudah lama tidak bertemu pun bersilaturahhim pada acara khitan massal ini.

Peserta sedang menunggu giliran
Diantara peserta dan orang tuanya, ada Ibu Jaty dari Pasar Se’eng, Parung, datang membawa anaknya Zikri yang berusia 7 tahun untuk dikhitan. Mereka telah siap sejak pukul 7.30, sedang menunggu giliran untuk masuk ruangan khitan. Informasi tentang khitan massal di Festival Baitul Amin mereka peroleh dari Pak Ustad di tempat mereka tinggal. Lain lagi dengan Yogi, 10 tahun, yang datang dengan ibunya dari Rangkapan Jaya. Ibunda Yogi, Ibu Warsih, mengungkapkan bahwa kemauan untuk dikhitan datang dari Yogi sendiri. Saat ini Yogi duduk di kelas 4 SD, dan akan mengambil beberapa hari tidak bersekolah guna menyembuhkan luka khitannya.
Selain Zikri dan Yogi yang sedang menunggu giliran untuk dikhitan, sebagian lainnya telah selesai dikhitan. Bagi peserta yang sudah dikhitan di ruang Auditorium Bawah, sebagian tampak sudah tenang, namun sebagian lainnya masih menangis menjerit-jerit. Ada yang minta pulang, ada juga yang minta minum. Film kartun yang dipasang di layar proyektor dan seorang badut yang berusaha menghibur anak-anak yang menangis terlihat kurang berhasil. Sang badut selain menghibur anak-anak, juga memberikan pengarahan kepada seorang anak dan orang tuanya bagaimana mengobati luka khitan. Namun bagi anak-anak yang sudah tenang, mereka menikmati nasi box atau snack yang terdapat di dalam bingkisan mereka. Selain snack, di bingkisan untuk anak-anak terdapat juga tas sekolah, set alat tulis dan tempat makan dan minum.

seorang bapak sedang menenangkan anaknya dalam proses khitan
Motivasi dari anak-anak ini beragam. “Dendi tidak mau sekolah, kalau belum dikhitan” cerita Ibu Cucu mengenai semangat anaknya untuk dikhitan. Oleh sebab itu Ibu Cucu sekeluarga telah hadir sejak tiga malam sebelum acara Festival Baitul Amin dimulai. Kebetulan kakak dari Ibu Cucu adalah salah seorang ikhwan Surau Baitul Amin yang tinggal tidak jauh dari Surau. Lain Dendi, lain lagi dengan Akmal. Kalau Dendi tidak mau sekolah sebelum dikhitan, Akmal tidak mau belajar mengaji sebelum dikhitan. Akmal yang datang hanya ditemani ibunya, terlihat sedang mengemil snack dari bingkisan yang telah khusus disiapkan.
Tanggapan peserta dan orang tuanya dari acara khitanan massal ini cukup positif, ada yang mengatakan bersyukur dengan dibuatnya acara demikian dan Ibu Cucu menyarankan agar acara serupa dibuat rutin menjadi setahun sekali. Khitanan massal selesai kurang lebih pukul 11.30, dan telah di khitan 41 anak, kurang dua peserta dari 43 anak dari daftar awal.


